Bahasa daerah merupakan satu diantara identitas diri suatu bangsa. Menurut Ethnologue Language of the World, Indonesia merupakan negara kedua di dunia yang memiliki bahasa daerah terbanyak, setelah Papua Nugini. Menurut laporan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) saat ini ada 718 bahasa ibu (daerah) yang sudah teridentifikasi di Indonesia.

Dilansir dari edukasi.kompas.com, Ketua Badan Bahasa, Prof Dr Dadang Sunendar, M.Hum menyebutkan bahwa sebagai negara yang mempunyai begitu banyak bahasa daerah, sudah seharusnya masyarakat Indonesia melestarikan bahasa daerahnya masing-masing. Menurutnya, tujuan pelestarian bahasa daerah tersebut tidak hanya untuk generasi sekarang, tetapi juga untuk generasi yang akan datang.

Bahasa daerah yang ada di Indonesia merupakan bukti bahwa bangsa Indonesia pernah memiliki peradaban, seni dan kebudayaan yang bersifat tak benda dan telah diwariskan secara turun temurun dari tahun ke tahun.

Atas dasar kekhawatiran punahnya bahasa daerah, UNESCO menetapkan setiap tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Daerah (Ibu) Internasional.

Dikutip dari cnnindonesia.com, tercatat sudah ada 11 bahasa daerah yang punah sejak tahun 2017 lalu. Kesemuanya itu berasal dari daerah Indonesia bagian timur, yaitu Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara. Selain itu, 25 bahasa daerah yang berasal dari Indonesia bagian timur juga terancam menyusul punah. Hal itu disampaikan Pelaksana tugas Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, Hurip Danu Ismadi di Kemendikbud dalam acara Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional Tahun 2020 , Senayan, Jumat (21/2). “Tiap kampung bahkan tiap desa itu memang beda-beda bahasanya. Rentan sekali [punah] karena penuturnya sedikit. Lama-lama yang sedikit kalau tidak terlestarikan, orangnya meninggal lalu tidak terwariskan. Itu yang buat rentan.”  

Selain dari tidak diwariskan secara turun temurun, bahasa daerah juga terancam punah akibat era globalisasi yang mana generasi sekarang ini sudah mulai tertarik untuk mempelajari bahasa-bahasa asing yang dapat dengan mudah diakses melalui internet.

Apabila tidak dalam pengawasan, generasi sekarang ini bisa menjadi senjata, duri dalam daging yang dapat mengancam hilangnya bahasa daerah. Tidak ada yang salah dalam mempelajari bahasa asing, sebab bahasa tersebut juga penting untuk kita jika ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Bahasa daerah penting untuk dilestarikan. Jika bahasa daerah punah, maka hilang pula identitas diri bangsa kita. Semoga kita semua dapat memahami betapa pentingnya melestarikan bahasa daerah yang menjadi cerminan identitas bangsa kita.

Oleh : Yakobus Dapi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *